Minggu, 21 Juli 2013

MUKADIMAH

Mukadimmah

Segala puji hanya kepunyaan Alloh, kami senantiasa memujiNya, memohon pertolongan hanya kepadaNya, dan kami berlindung kepada Alloh dari kejelekan amal perbuatan kami, dan dari kejelekan amal-amal kami, barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan Alloh maka tidak ada seorangpun yang dapat memberikannya petunjuk.
Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang hak kecuali Alloh yang tidak ada serikat bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya.
Alloh Ta’ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.(QS. Ali-Imran :102)

Alloh Ta’ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍۢ وَٰحِدَةٍۢ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًۭا كَثِيرًۭا وَنِسَآءًۭ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. AnNissa :1)

Alloh Ta’ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًۭا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar,
71. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
(QS. Al-Ahzaab : 70-71)
Maka sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru, maka setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap perkara sesat ada di dalam neraka.
Alloh Ta’ala berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلْتُمْ إِلَى ٱلْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا مِنَ ٱلْءَاخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ      إِلَّا تَنفِرُوا۟ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًۭا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْـًۭٔا ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌ

38. Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.
39. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS. At Taubah : 38-39)

Alloh Ta’ala berfirman :
۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
  
“ Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah :54)

Maka sesungguhnya risalah ini yang diberi judul dengan : “Permasalahan dari fiqh jihad” adalah pada dasarnya : Bab kedua dari risalah lain yang besar dengan nama : “Kumpulan-kumpulan dalam fiqh jihad” dimana ini merupakan bab khusus dari hukum darah dan yang berkaitan dengannya berhubung permasalahan ini adalah permasalahan yang patut di segerakan seraya berharap untuk dapat menyebarkannya dengan tersendiri. Sembari berharap kemudahannya dari Alloh berupa kesempurnaannya sebagaimana pengharap untuk kesempurnaan bagian ini. Dan keutamaan segala milik Alloh semata.
            Dan sesungguhnya bagian pembahasan yang telah sampai disisi (pembaca) yakni tidaklah saya menulis risalah ini kecuali untuk orang-orang yang berpaling dari perintah Alloh, orang-orang yang lari dari hukum-hukumNya, orang-orang yang selalu memperolok-olok hukum-hukumNya, orang-orang yang membenci terhadap apa yang telah diturunkan….sebagaimana tidaklah aku menulis risalah ini bagi orang-orang yang telah dibekukan pemikirannya dari perintah Alloh dan rasulNya, orang-orang yang menggantikan cahaya langit  kegelapan dunia dari kerdilnya sedikitnya penglihatan, dan menuruti pemikiran dan hawa nafsu, siasat-siasat dari pemikiran orang kafir timur dan barat. Sebagaimana pula tidaklah aku menulis risalah ini bagi orang-orang yang sudah dihinakan di jaman mereka, orang-orang yang telah mencampur adukan antara kebenaran dan kebathilan. orang-orang yang berbasa-basi dengan perintah Alloh dari kalangan orang-orang bodoh, pander, orang-orang yang suka mengarang-ngarang cerita bathil dengan dugaan mereka telah melakukan kebaikan dan taufik, mereka adalah orang-orang mengharapkan segala sesuatunya kecuali dalam urusan dien yang kuat ini!.
            Saya dalam menulis risalah ini hanyalah diperuntukan bagi orang-orang yang merendahkan dirinya kepada perintah Alloh, yang menghinakan diri terhadap hukum-hukumNya, orang-orang yang berserah diri kepada ajaran syariatNya, seperti halnya berserah dirinya seorang mayat ketika dimandikan, bahkan lebih dahsyat….
Saya menulis ini untuk sekelompok kecil yang jumlahnya amat sedikit, namun agung di hadapan Alloh kedudukannya…
Saya menulis kitab ini bagi sekumpulan orang-orang yang telah memenuhi panggilan dalam menunaikan baiat yang telah diikatkan oleh Alloh bersama mereka, sehingga luruslah mereka dengan lurus yang tinggi, teruji keimanannya karena telah lulus dalam ujian.
Saya menulis kitab risalah ini bagi sekumpulan kecil yang telah memberikan suritauladan dan contoh yang baik bagi semua alam, dengan berkata –demi bapakku dan ibuku- shalawat dan salam bagi hamba pilihan Alloh Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “benar-benar akan aku perangi mereka di atas urusanku ini sampai disendirikan tradisiku generasiku dan tegak urusan Alloh.” (Hr. Bukhari 2/975).
Saya menulis kitab risalah ini bagi sekelompok (thaifah) yang tidak seorangpun dapat menimpakan mudharat siapa saja yang menyelisihi dan yang menghinakannya.
Saya menulis kitab risalah ini bagi sekelompok kecil yang senantiasa menghidupkan kebenaran dan tidak takut dijalan Alloh terhadap orang-orang yang mencelanya walaupun semua penduduk duniapun mencelanya juga.
Saya menulis kitab risalah ini bagi para generasi yang terasing (ghuraba), yang terasing dari kabilah-kabilah, orang-orang yang kelak Alloh bangkitkan pada hari kiamat bersama Isa bin Maryam –alaihissallam-.
Saya menulis kitab risalah ini bagi para pemegang bara mereka mengigitnya dengan geraham-geraham mereka kebenaran tersebut.
Saya menulis kitab ini bagi siapa saja yang tidak menambah bagi mereka rasa gentar kecuali bertambah keteguhan mereka, dan tidak menambah mereka keraguan kecuali bertambah yakin (keimanan)…
Saya menulis kitab risalah teruntuk mereka yang teguh diatas kebenaran di bumi Syam, Rusia dengan izin Alloh.
Saya menulis kitab risalah teruntuk mereka yang yakin dengan janji Alloh, kesudahan akhir yang tidak akan lenyap : di mudahkan bagi mereka perkara dunia, semua dunia ridho kepada robb mereka dan Dialah (Alloh) wali mereka.
Saya menulis kitab risalah ini untuk kehormatan wanita, dimana malam dan siangnya maker jahat orang-orang kafir telah merenggut kehormatan mereka.
Saya menulis kitab risalah ini teruntuk mata yang kembali, hati yang dengan kesenangan yang meluap-luap, hati yang tunduk, ruh yang senantiasa terhibur.
Saya menulis kitab risalah ini untuk pemuda yang Alloh firmankan :
مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌۭ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًۭا 
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya),” (QS. Al-Ahzab :23)

Wasiat Syeikh USAMAH bin LADIN sepekan sebelum kesyahidannya

Pesan syaikh Usamah bin Ladin
rahimahullah untuk umat Islam
Tentang revolusi di negeri-negeri kaum
muslimin Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya,
meminta pertolongan-Nya, dan meminta
ampunan-Nya. Kami berlindung kepada
Allah dari kejahatan jiwa kami dan
keburukan amal perbuatan kami.
Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak ada yang dapat
menyesatkannya dan barangsiapa
disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada
yang dapat memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang
berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba Allah
dan utusan-Nya.
Amma ba’du…
Wahai umatku, umat Islam. Kami
mengikuti bersamamu peristiwa sejarah yang besar ini. Kami menyertaimu dalam
kegembiraan, keceriaan, kebahagian,
dan suka cita. Kami gembira karena
kegembiraanmu, dan kami bersedih
karena kesedihanmu. Kami sampaikan
ucapan selamat kepadamu atas kemenangan-kemenenganmu, semoga
Allah menerima para syudaha’mu,
menyembuhkan orang-orang yang
terluka di antaramu, dan membebaskan
orang-orang yang tertawan di antaramu.
Wa ba’du… Hari-hari baru terbit dengan kemuliaan
pemeluk Islam
para penguasa di negeri-negeri Arab
bersembunyi
singgasana kekuasaan telah dilipat
hingga datang kepada kita berita harapan kabar
gembira dan panji-panji kemenangan.
Umat Islam telah lama menghadapkan
muka mereka, menunggu-nunggu
kemenangan yang berita-berita gembira
tentang kedatangannya mulai nampak
dari Timur (Afghanistan, pent). Ternyata
matahari revolusi terbit dari sebelah Barat (Tunisia lalu Mesir, pent). Revolusi
mulai memancarkan sinarnya di negeri
Tunisia, maka umat Islam
menyambutnya dengan suka cita, wajah
bangsa-bangsa muslim berseri ceria
karenanya. Adapun kerongkongan para penguasa tercekik dan bangsa Yahudi
gemetar ketakutan karena telah
dekatnya janji-janji (kemenangan Islam
atas mereka, pent). Dengan tumbangnya
sang taghut (diktator), runtuh pula makna
kehinaan, ketertundukan, ketakutan, dan kemunduran. Sebaliknya bangkitlah
makna kebebasan, kemuliaan,
keberanian, dan kesiapan untuk maju.
Maka angin perubahan bertiup kencang
demi menginginkan kemerdekaan.
Tunisia telah menjadi pelopor atas hal itu. Lalu secepat kilat, para ksatria negeri
Kinanah (Mesir, pent) mengambil bara api
(contoh, pent) dari para revolusioner
Tunisia ke lapangan At-Tahrir. Maka
terjadilah revolusi yang besar? Revolusi
apakah gerangan? Revolusi penentuan nasib bagi seluruh
Mesir dan segenap umat Islam jika
mereka berpegang teguh dengan tali
agama Allah. Revolusi ini bukanlah
revolusi makanan dan pakaian. Ia adalah
revolusi kemuliaan dan harga diri, revolusi pengorbanan, menerangi
seluruh kota dan desa sungai Nil dari
wilayah dataran rendah hingga dataran
tinggi. Maka kemuliaan putra-putra Islam
mulai terlihat. Jiwa-jiwa mereka
merindukan kejayaan nenek moyang mereka. Mereka memungut di lapangan
At-Tahrir Kairo bara api untuk
mengalahkan pemerintahan-
pemerintahan yang lalim. Mereka tegak
melawan kebatilan. Mereka angkat
tinggi-tinggi kepalan tangan mereka sebagai perlawanan terhadap kebatilan.
Mereka tiada gentar terhadap tentara
kebatilan. Mereka saling berjanji dan
mereka meneguhkan janji tersebut.
Tekad mereka telah bulat, lengan tangan
mereka saling menopang, dan revolusi pun menjanjikan kemenangan.
Kepada mereka, para revolusioner yang
merdeka, di seluruh negara…
Pegang teguhlah oleh kalian kendali
inisiatif! Waspadailah diplomasi (dengan
pemerintahan zalim nan kafir, pent)! Karena sesungguhnya tidak ada jalan
tengah antara pengikut kebenaran dan
pengikut kesesatan. Sekali-kali tidak
mungkin ada.
Ingatlah oleh kalian bahwa Allah telah
mengaruniakan kepada kalian hari-hari yang masih akan ada kelanjutannya.
Kalianlah para ksatria berkuda dan
komandannya. Di tangan kalianlah tali
kekang dan kendali urusannya. Umat
Islam ‘menabung’ kalian untuk
peristiwa yang besar ini, maka sempurnakanlah perjalanan dan
janganlah kalian gentar dengan kesulitan
yang bakal menghadang.
Perjalanan menuju tujuan telah dimulai
Orang merdeka maju ke depan dengan
tekad bulat Jika orang merdeka telah mulai
menempuh jalan
Tak kan pernah merasa lelah atau
berhenti Sekali-kali ia tidak akan berhenti
sehingga tujuan-tujuan yang
direncanakan telah tercapai dan
harapan-harapan yang dicanangkan
telah tergapai, dengan izin Allah SWT.
Revolusi kalian adalah poros mesin gilingan dan tempat penggantungan
harapan orang-orang yang tertindas dan
terluka. Kalian telah membebaskan dari
umat ini banyak penderitaan yang berat
---semoga Allah membebaskan kalian
dari berbagai penderitaan---, dan kalian telah merealisasikan banyak harapan
besar ---semoga Allah SWT
merealisasikan harapan-harapan
kalian---. Jalan tegak seperti halte bagi kalian
Keputus asaan di belakang, harapan di
depan
Kemuliaan dikembalikan dengan darah,
sebagaimana ia dirampas dengan darah
Singga pemberani mati demi membela sarangnya
Siapa mengorbankan nyawanya yang
berharga demi Rabbnya
Tuk melawan kebatilan mereka,
bagaimana ia akan dicela? Wahai putra-putra umatku, umat Islam…
Di depan kalian ada perempatan jalan-
jalan yang genting dan kesempatan
sejarah yang agung lagi jaran terjadi,
untuk membangkitkan umat Islam dan
membebaskan diri dari peribadatan kepada hawa nafsu para penguasa,
undang-undang positip, dan hegemoni
Barat.
Merupakan sebuah dosa besar dan
kebodohan yang besar apabila
kesempatan yang telah ditunggu-tunggu oleh umat Islam sejak banyak dekade ini
berlalu sia-sia belaka. Maka
pergunakanlah kesempatan ini sebaik
mungkin! Hancurkanlah patung-patung
dan berhala-berhala! Tegakkanlah
keadilan dan keimanan! Dalam kesempatan ini, saya
mengingatkan orang-orang yang jujur
(tulus berjuang untuk Islam, pent) bahwa
membentuk sebuah majlis yang
memberikan pendapat dan musyawarah
kepada bangsa-bangsa muslim dalam seluruh aspek yang urgen merupakan
sebuah kewajiban syar’i. Kewajiban itu
lebih tegas lagi atas diri para aktivis
Islam yang memiliki ghirah, yang sejak
lama mereka telah memberi nasehat
urgensi mencabut pemerintahan- pemerintahan yang zalim ini sampai ke
akar-akarnya.
Para aktivis Islam tersebut memiliki
tingkat kepercayaan (dukungan) yang
luas di kalangan kaum muslimin. Maka
mereka harus memulai program ini dan mengumumkannya dengan segera, jauh
dari dominasi para penguasa diktator.
Mereka harus harus membuat ‘kamar
operasi’ (lembaga riset dan litbang,
pent) yang memantau (mengikuti)
perkembangan kejadian(peristiwa) agar bekerja melalui langkah-langkah yang
seimbang (terukur) yang mencakup
seluruh kebutuhan umat Islam. Mereka
harus mengambil manfaat dari saran-
saran para tokoh cendekiawan umat ini,
dan meminta bantuan lembaga-lembaga kajian yang profesional serta orang-
orang bijak nan ahli umat ini untuk
menyelamatkan umat ini yang tengah
berjuang dalam rangka menjatuhkan
para penguasa taghut, sedang putra-
putra umat ini menghadapi berbagai pembantaian. Mereka harus membimbing
dan mengarahkan bangsa-bangsa
muslim ---yang tengah berjuang untuk
menjatuhkan penguasa dan pilar-
pilarnya--- dengan langkah-langkah yang
seharusnya (tepat) untuk melindungi revolusi ini dan merealisasikan tujuan-
tujuannya.
Demikian juga wajib saling membantu
dengan bangsa-bangsa yang belum
memulai revolusi, untuk menentukan hari
H dan apa yang harus dikerjakan sebelumnya. Sebab, keterlambatan akan
menyebabkan hilangnya kesempatan.
Sebaliknya, tergesa-gesa sebelum
saatnya hanya akan menambah jumlah
korban. Saya perkirakan angin
perubahan akan melanda seluruh dunia Islam, dengan izin Allah. Maka para
pemuda wajib mempersiapkan hal-hal
yang semestinya untuk menghadapi
peristiwa tersebut. Janganlah mereka
memutuskan sebuah perkara sebelum
mereka bermusyawarah dengan para ahli yang berpengalaman lagi jujur, yang
jauh dari solusi-solusi ‘titik
temu’ (saling menguntungkan dengan
taghut, pent) dan berkompromi dengan
para penguasa zalim. Dalam syair (karya
al-Mutanabbi, pent) telah disebutkan: Gagasan itu mendahului keberanian
seorang pemberani
Gagasan yang pertama, keberanian yang
kedua Wahai umatku, umat Islam…
Sejak beberapa decade yang lalu, engkau
telah menyaksikan banyak revolusi.
Masyarakat menyambutnya dengan
gembira, namun tak lama sesudah itu
justru merasakan bencana-bencananya. Jalan untuk menjaga umat ini dan
revolusinya pada hari ini dari kesesatan
dan kegelapan adalah memulai dengan
revolusi kesadaran dan meluruskan
pemahaman-pemahaman dalam seluruh
bidang kehidupan, apalagi bidang-bidang pokok. Bidang yang paling penting adalah
rukun Islam yang pertama, dan sebaik-
baik buku yang ditulis dalam hal itu
adalah kitab ‘Mafahim Yanbaghi an
Tushahhah’ (Konsep-konsep yang
seharusnya diluruskan) karya syaikh Muhammad Qutub.
Lemahnya kesadaran kebanyakan putra
umat ini yang timbul dari wawasan yang
keliru yang disebar luaskan oleh para
penguasa sejak dekade yang lama,
merupakan musibah terbesar. Musibah- musibah lain yang menimpa umat ini
hanyalah salah satu buah yang pahit dari
buah-buah musibah terbesar ini. Itulah
wawasan kerendahan, keterbudakan,
ketundukan, dan ketaatan mutlak kepada
para penguasa ----sebuah bentuk peribadatan kepada para penguasa
selain peribadatan kepada Allah---
mengalah kepada para penguasa dalam
hak-hak dunia dan agama yang paling
urgen; menjadikan nilai-nilai, prinsip-
prinsip, dan tokoh-tokoh berkisar pada poros penguasa…telah menjadikan
manusia kehilangan kemanusiaannya,
menjadikannya berlari di belakang
penguasa dan keinginan-keinginan
penguasa, tanpa sadar atau mengetahui
duduk perkaranya, sehingga ia menjadi sekedar pengekor, jika masyarakat baik
maka ia ikut-ikutan baik, jika masyarakat
buruk maka ia ikut-ikutan buruk. Ia
menjadi barang dagangan yang murah,
penguasa berbuat kepadanya semuanya
sendiri. Mereka adalah para korban kezaliman dan penindasan di negeri-
negeri kita. Para penguasa
mengeluarkan mereka agar mereka
meneriakkan (yel-yel dukungan, pent)
kepada para penguasa tersebut dan
berdiri dalam parit (kelompok pendukung) para penguasa tersebut.
Para penguasa telah berusaha untuk
membuat rakyat melepaskan hak
terpenting yang telah Allah berikan
kepada mereka. Para penguasa
meniadakan akal sehat umat ini dan meminggirkan peranannya dalam
seluruh bidang kehidupan yang penting
melalui pengerahan usaha intensif
lembaga-lembaga keagamaan negara
dan media massa negara yang
menetapkan keabsahan pemerintahan para penguasa tersebut. Mereka
‘menyihir’ mata, akal, dan keinginan
rakyat. Mereka melaris-maniskan
‘pemberhalaan’ penguasa. Mereka
membangunkan pondasi keabsahan
pemerintahan para penguasa tersebut secara dusta, atas nama agama dan
tanah air. Mereka menanamkan hal itu
dalam hati rakyat, agar rakyat
menghormati para penguasa, orang-
orang tua menganggap kesuciannya, dan
anak-anak tidak selamat darinya. Padahal anak-anak tersebut adalah
amanah di pundak kita, dan mereka
dilahirkan di atas fitrah. Para penguasa
membunuh fitrah anak-anak tanpa
perasaan dan tanpa kasih sayang. Orang
tua memasuki masa jompo di atas keadaan seperti itu dan anak-anak
tumbuh dewasa dalam suasana itu pula.
Para taghut semakin melampaui batas
dan kaum yang tertindas semakin
tertindas. Maka apalagi yang kalian
tunggu? Maka selamatkanlah diri kalian dan anak-
anak kalian! Kesempatan emas telah
muncul, terkhusus lagi setelah para
pemuda umat ini menanggung resiko-
resiko revolusi ini dan musibah-
musibahnya, peluru taghut dan siksaannya. Para pemuda itu telah
membukakan jalan dengan
pengorbanan-pengorbanan mereka.
Mereka membangun jembatan
kemerdekaan dengan darah-darah
mereka. Para pemuda yang usianya masih belia. Mereka menceraikan dunia
kehinaan dan penindasan. Mereka
meminang kemuliaan atau kuburan
(kematian). Apakah para penguasa telah
sadar bahwa rakyat telah keluar, dan
sekali-kali mereka tidak akan kembali, sehingga mereka berhasil
merealisasikan janji-janji dengan izin
Allah SWT.
Sebagai penutup pesan ini…
Sesungguhnya kezaliman besar di negeri-
negeri kita telah mencapai tarap yang demikian besar. Kita sangat terlambat
dalam mengingkari dan merubahnya.
Barangsiapa sudah memulai
(mengingkari dan merubah kezaliman
besar tersebut), hendaklah ia
menyelesaikannya, semoga Allah menolongnya. Dan barangsiapa belum
memulai, hendaklah ia menyiapkan
perbekalan untuk menghadapinya!
Renungkanlah hadits shahih bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiada seorang nabi pun yang Allah utus
pada umat sebelumku, melainkan ia
memiliki hawarriyun (para pendukung utama) dan sahabat-sahabat dari
kalangan umatnya. Mereka mengambil
sunah nabi tersebut dan mengikuti
perintahnya. Setelah mereka berlalu,
maka muncul beberapa generasi yang
mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, dan mengerjakan apa yang
tidak diserahkan kepada mereka.
Barangsiapa berjihad melawan mereka
dengan tangannya, maka ia adalah
seorang mukmin. Barangsiapa berjihad
melawan mereka dengan lisannya, maka ia adalah seorang mukmin. Dan
barangsiapa berjihad melawan mereka
dengan hatinya, maka ia adalah seorang
mukmin. Di balik itu tiada keimanan lagi
walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Beliau SAW juga bersabda:
“Pemimpin para syuhada’ adalah
Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yang melakukan amar ma’ruf
dan nahi munkar kepada penguasa yang
zalim, maka penguasa itu
membunuhnya.” (HR. Al-Hakim)
Saya ucapkan selamat bagi siapa yang
keluar dengan niat yang agung ini. Jika ia terbunuh, maka ia menjadi pemimpin
para syuhada’. Dan jika ia hidup, maka
ia mulia dan Berjaya. Maka
perjuangkanlah kebenaran dan janganlah
menghiraukan resikonya!
Mengatakan kebenaran kepada taghut Adalah kemuliaan dan kabar gembira
Itulah jalan kemuliaan di dunia
Dan jalan kebahagiaan di akhirat
Jika mau, silahkan mati sebagai budak
Dan jika mau, silahkan mati sebagai
orang merdeka Ya Allah, berikanlah kemenangan yang
nyata kepada orang-orang yang berjuang
untuk menegakkan agama-Mu!
Karuniakanlah kesabaran, ketepatan,
dan keyakinan kepada mereka!
Ya Allah, realisasikanlah untuk umat ini perkara yang lurus, dengannya orang-
orang yang mentaati-Mu dimuliakan dan
orang-orang yang mendurhakai-Mu
dihinakan, perbuatan yang ma’ruf
diperintahkan dan perbuatan yang
mungkar dilarang Wahai Rabb kami, berikanlah kepada
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat, dan lindungilah kami dari api
neraka!
Ya Allah, kuatkanlah orang yang lemah di
antara kami, sembuhkanlah orang yang terluka di antara kami, dan teguhkanlah
pijakan kaki kami!
Ya Allah, hancurkanlah para pemimpin
kezaliman, lokal maupun internasional,
dan menangkanlah kami atas kaum yang
kafir. Akhir doa kami adalah segala puji bagi
Allah Rabb semesta alam.

Inilah Dakwah dan Aqidah Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab

PENDAPAT BELIAU DALAM MASALAH TAUHID &SYIRIK

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga berkata : "Aku tahu bahwa manusia tidak akan lurus agama dan Islamnya, meskipun ia mentauhidkan Allah -subhanahu wata'ala- dan meninggalkan kesyirikan , kecuali disertai dengan permusuhan terhadap orang-orang musyrik dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka". (Ad-Duror As- Saniyyah : 8/113). 

Syaikh Asy-Syanqithi berkata: “Mensyirikkan Allah swt dalam berhukum dan mensyirikkan Allah swt dalam beribadah, tidak ada bedanya sama sekali. Orang yang mengikuti aturan selain aturan Allah dan mengikuti undang-undang selain undang-undang Allah. Ia seperti penyembah arca dan bersujud kepada patung. Sama sekali tidak ada perbedaan antar keduanya. Status mereka sama;sama- sama musyrik.” (Adhwa’ul Bayan, 7/162).

PENDAPAT BELIAU TENTANG THOGUT

Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan : “Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima, yaitu : 

1.      Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah. (QS 6:112 & 36:60)
2.      Penguasa dzalim yang merubah hukumhukum Allah. (QS 4:60)
3.      Orangorang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.(5:44)
4.      Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.(QS 72:26)
5.      Sesuatu selain Allah yang diibadahi dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.(QS 21:29)
6.      Penguasa yang merubah hukum Alloh bukan ulil amri minkum seperti QS Annisa : 59, tapi ia adalah thogut berdasarkan QS Annisa : 60, karena berhukum kepada hukum Alloh adalah SYARAT SAH iman . Bagaimana mau dikatakan beriman sementara ketika berselisih justru tidak merujuk kepada qur’an sunnah tapi malah merujuk kepada hukum thogut!. Padahal dalam QS Annisa 60 Alloh subhanahu wata’ala MEMERINTAHKAN untuk mengkufurinya !.
Maka siapa yang mendalili thogut dengan QS Annisa 59-60 maka ia telah melakukan tahrif (penyelewengan) terhadap makna ayat. Menafsirkan ayat ini (QS Annisa 59), 

Syaikh As- Sa’di rahimahulloh berkata, “Mengembalikan semua perkara kepada hukum Allah dan RasulNya adalah syarat (sah) iman. Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Allah dan RasulNya, pada hakekatnya ia tidak beriman kepada Allah, tetapi beriman kepada thoghut” (Tafsir as- Sa’di, 1/183).

BAGAIMANA BELIAU MENGAJARKAN CARA KUFUR KEPADA THOGUT ?

 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Karakter dari kafir kepada thoghut adalah meyakini kebathilan peribadatan kepada selain Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ, meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan pelakunya serta memusuhi mereka. 

Adapun makna beriman kepada Allah ﻝﺎﻌﺗ ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ adalah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang disembah, tidak ada yang lain, mengikhlaskan seluruh ibadah untuk Allah ﻝﺎﻌﺗ ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ dan menafikan seluruh sesembahan selain-Nya, mencintai orang-orang yang ikhlas dan menolong mereka, membenci para pelaku syirik dan memusuhinya. Inilah syari'at Millah Ibrohim, barangsiapa membencinya, maka dirinya adalah orang yang bodoh. Inilah teladan yang telah dikabarkan oleh Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ, 

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja' '. (QS. Al-Mumtahanah [60] : 4)".
(Ad Duror As Saniyyah : 1/161). 

SIKAP BARO’ BELIAU TERHADAP THOGUT & ORANG MUSYRIK

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : "Demi Allah, demi Allah wahai saudaraku! Berpegang teguhlah kepada pokok dasar agama kalian yang pertama dan yang terakhir, hati dan kepalanya, yaitu syahadat laa ilaaha illallaah, ketahuilah maknanya, cintailah orang-orang yang melaksanakannya, jadikanlah mereka saudara-saudara kalian meskipun mereka jauh, kafirkan para thogut, musuhilah mereka dan bencilah orang-orang yang mencintai mereka, yang membela mereka, orang yang tidak mengkafirkan mereka, orang yang mengatakan “aku tidak ada urusan dengan mereka”, atau orang yang mengatakan “Allah tidak membebaniku dengan mereka”. Sungguh, dia telah melakukan kedustaan terhadap Allah SWT dan mengada-ada. Bahkan Allah SWT telah membebankan kepadanya atas orang-orang tersebut, dan mewajibkan kepadanya untuk mengkafirkan mereka, serta berlepas diri dari mereka, meskipun yang ia kafirkan adalah saudara-saudara mereka sendiri, atau anak-anak mereka sendiri. Demi Allah dan demi Allah, berpegang teguhlah kalian kepada pokok dasar agama kalian, semoga kalian bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ya Allah, matikanlah kami sebagai orang-orang muslim, dan masukkanlah kami bersama golongan orang-orang yang sholih". (Ad-Duror As- Saniyyah : 2/119-120).

 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga berkata lagi : "Adapun engkau wahai orang-orang yang telah dianugrahi nikmat Islam dan mengetahui bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah. Apabila kamu mengatakan, “inilah yang benar, aku telah meninggalkan selain Allah, tetapi aku tidak menentang orang-orang musyrik serta tidak berkomentar apapun tentang mereka”, maka janganlah kamu mengira bahwa yang demikian itu menjadikan kamu masuk Islam. Akan tetapi kamu harus membenci orang-orang musyrik, membenci siapa saja yang mencintai mereka, mencela mereka dan memusuhi mereka. Sebagaimana bapak kalian Ibrahim 'alaihis salam dan orang- orang yang bersama beliau berkata, 

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
  
"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…". (QS. Al-Mumtahanah : 4)
(Ad-Duror As- Saniyyah : 2/109) 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "Bahkan tidak sah agama Islam itu tanpa ada sikap berlepas diri dari mereka -yaitu thoghut yang menjadi sesembahan selain Allah ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ ﻭ- serta mengkafirkan mereka. Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ berfirman, 

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat". ( QS Al Baqarah, : 256), (Ad Duror As Saniyyah : 10/53) 

PENDAPAT BELIAU TENTANG TEGAK HUJJAH

Syaikh Muhhamad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam risalahnya kepada Isa Ibnu Qasim dan Ahmad Ibnu Suwailim : “Dan sesungguhnya kalian masih ragu tentang thaghut-thaghut itu dan para pengikutnya apakah hujjah itu sudah tegak atau belum atas mereka ? Ini adalah tergolong keanehan yang paling mengherankan, bagaimana kalian ragu akan hal ini sedangkan sudah saya jelaskan berkali-kali kepada kalian. Sesungguhnya orang yang BELUM TEGAK hujjah atasnya adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang hidup dipedalaman yang sangat jauh [*] atau hal itu dalam masalah khafiyyah [**] (yang masih samar) seperti sharf dan ‘athaf (pelet) maka (dalam hal seperti ini) pelakunya tidak dikafirkan sehingga diberitahu (terlebih dahulu). Dan adapun Ushuluddien yang telah Allah jelaskan dan Dia pastikan di dalam kitab- Nya maka sesungguhnya hujjah Allah adalah Al- Qur’an. Siapa yang sampai kepadanya Al- Qur’an berarti hujjah itu SUDAH TEGAK, akan tetapi inti kekeliruan adalah kalian tidak membedakan tegak hujjah dengan paham hujjah, karena sesungguhnya mayoritas orang kafir dan munafik, mereka itu tidak paham hujjah Allah padahal hujjah itu SUDAH TEGAK atas mereka, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala : 

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعَٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا 

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Q.S. Al Furqan [25] : 44)

 TEGAK dan SAMPAINYA hujjah adalah lain, sedangkan PAHAM hujjah adalah hal lain pula. Dan Allah telah mengkafirkan mereka dengan sebab sampainya hujjah kepada mereka MESKIPUN mereka tidak memahaminya.” [Tarikh Nejd : 410] [*] Harus ingat bahwa orang macam ini bila melakukan kemusyrikan, tetap disebut orang musyrik bukan muslim, namun belum dikafirkan. Camkan hal ini! [**] Seperti masalah Khalqul Qur’an dan masalah-masalah yang dipertentangkan antara Ahlus Sunnah dengan Ahli Bid’ah lainnya yang pada dasarnya mengandung unsur kekafiran. Contohnya pernyataan bahwa Al Qur’an adalah makhluq, maka ini mengandung pendustaan terhadap nash yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu Kalamullah bukan makhluq, namun karena ini adalah masalah yang tersamar (khafiyyah), maka orangnya tidak dikafirkan sampai ditegakkan hujjah secara khusus kepadanya dan syubhatnya disingkapkan. Jadi yang namanya hujjah di dalam masaail khaifiyyah adalah bayaan dan diskusi. Dan digolongkan juga di dalam masaail khafiyyah adalah permasalahan syirik akbar yang samar dari sisi makna dan hakikatnya , seperti Demokrasi berkaitan dengan orang yang tidak terlibat langsung di dalamnya namun dia hanya sekedar mencoblos atau mencontreng, maka sebelum pengkafiran orang mu’ayyan yang mencoblos harus ditegakkan hujjah terlebih dahulu secara khusus karena ada ihtimaal (kemungkinan) dia itu tidak mengetahui makna dan hakikat demokrasi itu dan hakikat mencoblos. 

SALAH SATU MUSUH DAKWAH TAUHID MENURUT BELIAU Syaikh Muhammad At Tamimirahimahullah: “Orang-orang yang merasa keberatan dengan masalah takfir, bila engkau mengamati mereka ternyata kaum muwahhidin adalah MUSUH MEREKA, mereka BENCI & DONGKOL kepada para muwahhid itu. Sedangkan para PELAKU SYIRIK & MUNAFIQIN adalah TEMAN MEREKA yang mana mereka BERCENGKRAMA DENGANNYA. Akan tetapi hal seperti ini telah menimpa orang-orang yang pernah bersama kami di Diriyah dan Uyainah yang mana mereka murtad dan benci akan dien ini” [Ad Durar As Saniyyah: 10/92]

UCAPAN ULAMA TENTANG TUDUHAN KHOWARIJ KEPADA BELIAU & MUWAHIDIEN

Abu Abdurrahman Al- Atsari ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Sampai-sampai ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membela tauhid dan mencela para thoghut serta memusuhinya, para 'ulama-'ulama yang buruk itu berkata tentang beliau,'Sesungguhnya dia adalah orang Khowarij Takfiri', SAMA SEPERTI YANG TERJADI PADA HARI INI". (Al-Haqq wal Yaqiin fii Adaawaat At-Tughot wal Murtaddiin) Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata : "Ada orang-orang musyrik yang mengkafirkan para Muwahhid karena keikhlasan dan pengingkaran mereka terhadap pelaku kesyirikan. Mereka mengatakan kepada para Muwahhid tersebut, KALIAN ADALAH KHOWARIJ, KALIAN ADALAH PELAKU BID’AH !. Keadaan ini persis sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnul Qoyyim Al- Jauziyyah dalam syairnya , 'Siapa yang menyerupakanku dengan khowarij, yang mengkafirkan pelaku dosa dengan takwil tanpa pertimbangan, mereka sedikit memahami dalil dan menyepelekan kebajikan. Musuh kami mengkafirkan apa yang ada pada kami. Padahal itulah TUJUAN POKOK TAUHID DAN IMAN . Orang ini mengambil pemahaman orang yang mengkafirkan seseorang karena lepasnya tauhid dari dirinya. Jika kita mengatakan, 'Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT, tidak ada yang berhak dimintai kecuali Dia, tidak ada sesuatu yang menjadi tumpahan harapan dan tempat bertawakkal kecuali Dia, dan bentuk ibadah lain yang tidak akan benar kecuali jika ditujukan hanya kepada-Nya. Sedangkan selain itu ditujukan kepada selain Allah, maka dia telah kafir dan musyrik'. Maka dia (murji'ah) berkata,'Kalian telah berbuat bid'ah dan mengkafirkan ummat Nabi Muhammad SAW, KALIAN ADALAH KHOWARIJ, KALIAN ADALAH PELAKU BID’AH ! ". (Ad-Duror As-Saniyyah : 11/448-449).

Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Hari ini banyak orang-orang musyrik yang berlebih-lebihan. Mereka menganggap pelaku takfir terhadap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah termasuk kelompok Khowarij. Padahal bukan begitu, akan tetapi ucapan dua kalimat syahadat tidak dapat menjadi penghalang (mawani') seseorang dihukumi kafir, kecuali bagi orang-orang yang mengetahui makna keduanya, mengamalkan konsekuensinya, mengikhlaskan ibadah untuk Allah, dan tidak menyekutukan- Nya. Bagi orang seperti inilah dua kalimat ini akan bermanfaat". (Ad-Duror As- Saniyyah : 12/263)

 Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdirrahman rahimahullah berkata: “Siapa yang menjadikan pengkafiran dengan syirik akbar termasuk aqidah Khawarij maka sungguh dia telah MENCELA SEMUA ROSUL dan UMAT INI. Dia TIDAK BISA MEMBEDAKAN antara Dien para rasul dengan madzhab Khawarij, dia telah MENCAMPAKKAN nash-nash Al Qur’an dan dia mengikuti SELAIN jalan kaum muslimin” [Mishbahudz Dzalam: 72] “WAHABI” SETENGAH HATI Yang agak “unik”, ada orang yang  mengklaim sebagai pewaris ideology & aqidah syaikh rahimahulloh, tapi realitanya sungguh jauh dari pengakuan mereka dari sosok & akidah syaikh rahimahulloh. Salah satu buktinya mereka mengatakan penguasa yang berhukum kepada selain hukum Alloh (Baca : hukum thogut) sebagai “Amirul Mukminin” yang wajib ditaati, membangkang dari mereka adalah khowarij dan Kilabunnar (Anjing-anjing neraka), darahnya halal ditumpahkan. Begitukah akidah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab? Tidak, jauh sekali. Justru syaikh menegaskan bahwa salah satu gembong thogut yang wajib diingkari & dimusuhi adalah pemimpin yang menerapkan selain hukum Alloh. Dalilnya QS Annisa 60 (Mu’allafat Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, hal 337) - (lihat 5 pentolan thogut diatas) Syaikh mengatakan, mengingkari thogut adalah bagian dari kesempurnaan Islam. bahkan dalam beberapa pernyataan lain, beliau menjadikan ingkar kepada thogut adalah bagian dari syarat sah iman seseorang (termasuk dalam hal ini adalah pemimpin yang memusuhi syariat islam). Tapi disisi lain justru para pengklaim tersebut mewajibkan taat kepada pemimpin yang tidak berhukum kepada hukum Alloh, menerapkan hukum thogut dan sekuler. Bahkan, menghalalkan darah orang yang mencoba melurusknya pemimpin tadi. Amboi, jauhnya panggang dari api. 

LALU, SIAPAKAH PENGIKUT SYAIKH RAHIMAHULLOH YANG SESUNGGUHNYA ? 

1.      Yang tauhidnya murni & terbebas dari syirik, baik syirik kubur maupun dustur (hukum)
2.      Yang kufur kepada thogut serta membencinya dan menjauhinya
3.    Yang berhukum kepada Quran Sunnah bukan kepada thogut Syaikh kami Al Imam rahimahullah – yaitu kakeknya: Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab – berkata dalam konteks penuturan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap Quraisy untuk bertauhid, serta apa yang muncul dari mereka saat beliau menyebutkan ilah-ilah mereka bahwa itu tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudlarat bagi mereka, sesungguhnya mereka menjadikan hal itu sebagai celaan”. Bila engkau mengetahui ini maka engkau mengetahui bahwa orang tidak tegak Islamnya meskipun ia mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik dan terang-terangan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, sebagaimana firman-Nya: 

لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang- orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga  mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah,58:22) 

Bila engkau memahami hal ini dengan pemahaman yang baik, maka engkau mengetahui bahwa banyak diantara orang yang mengaku Islam tidak mengetahuinya. Karena kalau bukan karena itu, maka apa yang mendorong kaum muslimi untuk sabar atas penindasan, ditawan dan hijrah ke Habsyah padahal beliau adalah orang yang paling sayang dan seandainya beliau mendapatkan bagi mereka rukhshah (keringanan) tentulah beliau memberikan rukhshah kepada mereka, bagaimana itu bisa ada sedangkan Allah telah menurunkan kepadanya firmanNya dlm QS : Al Ankabut,29: 10 “Bila saja ayat ini berkenaan dengan orang yang setuju dengan lisannya, maka bagaimana dengan selain itu, yaitu orang yang menyetujui mereka dengan ucapan dan perbuatan tanpa ada penindasan, terus ia mendukung mereka, membantu mereka, dan membela-membela mereka dan orang yang setuju dengan mereka, serta mengingkari orang yang menyelisihi mereka sebagaimana itu realita yang terjadi”. (Ad Durar Juz Al Jihad hal: 93)

Sabtu, 20 Juli 2013

INILAH DAKWAH KAMI

INILAH DAKWAH KAMI 

 

► Kami mengajak pada hijrah menuju Allah ta’ala dengan memurnikan tauhid, berlepas diri dari syirik dan tandid dan hijrah menuju Rosul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan memurnikan mutaba’ah padanya.

► Kami mengajak pada idh-harut tauhid (menampakkan tauhid) dengan mengumumkan ikatan iman yang paling kuat dan terus terang dengan millah dua kholil (kekasih), Muhammad dan Ibrohim ‘alaihimas salam, menampakkan tawalli (loyalitas) pada tauhid dan pemeluknya, dan menampakkan baro’ah (berlepas diri) dari syirik dan pelakunya.

► Kami mengajak pada realisasi tauhid dengan jihad melawan para thoghut semua dengan lisan dan senjata untuk mengeluarkan hamba dari ibadah kepada hamba menuju ibadah pada Robbnya hamba dan mengeluarkan hamba dari manhaj-manhaj, undang-undang, din-din menuju keadilan dan cahaya Islam.

► Kami mengajak untuk menuntut ilmu syar’i dari sumbernya yang murni dan menghancurkan keberhalaan ulama penguasa dengan wujud mempersembahkan taqlid pada alim ulama dan ahli ibadah yang telah merusak ad-din dan mengacaukan pemahaman kaum muslimin.

Tidak ada yang merusak ad-din itu kecuali raja-raja …
Ulama suu’ dan ahli ibadahnya

► Kami mengajak untuk melihat pada kondisi waqi’, menelanjangi semua jalan orang-orang mujrim (penuh dosa) dengan berbagai macam millah mereka.
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: Ini adalah jalanku. Aku dan orang yang mengikutiku mengajak menuju Allah di atas bashiroh (ilmu). Maha Suci Allah, aku tidak termasuk orang-orang musyrik. (QS. Yusuf [12]: 108)

► Kami mengajak pada i’dad (persiapan) yang sungguh-sungguh untuk mencukupi kemampuan guna berjihad fi sabilillah dan mengajak pada usaha memerangi para thoghut dan anshornya serta Yahudi dan para pendukungnya untuk membebaskan kaum muslimin dan negeri mereka dari cengkraman dan penjajahan mereka.

► Kami mengajak untuk bergabung dengan rombongan ath-thoifah azh-zhohiroh (kelompok yang menang) yang menegakkan dinullah yang tidak membahayakan orang-orang yang menyelisihi dan menelantarkan mereka sampai datang ketetapan Allah.