PENDAPAT BELIAU DALAM MASALAH TAUHID &SYIRIK
Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga berkata : "Aku tahu bahwa
manusia tidak akan lurus agama dan Islamnya, meskipun ia mentauhidkan
Allah -subhanahu wata'ala- dan meninggalkan kesyirikan , kecuali
disertai dengan permusuhan terhadap orang-orang musyrik dan menampakkan
permusuhan dan kebencian terhadap mereka". (Ad-Duror As- Saniyyah :
8/113).
Syaikh
Asy-Syanqithi berkata: “Mensyirikkan Allah swt dalam berhukum dan
mensyirikkan Allah swt dalam beribadah, tidak ada bedanya sama sekali.
Orang yang mengikuti aturan selain aturan Allah dan mengikuti
undang-undang selain undang-undang Allah. Ia seperti penyembah arca dan
bersujud kepada patung. Sama sekali tidak ada perbedaan antar keduanya.
Status mereka sama;sama- sama musyrik.” (Adhwa’ul Bayan, 7/162).
PENDAPAT BELIAU TENTANG THOGUT
Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan : “Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima, yaitu :
1. Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah. (QS 6:112 & 36:60)
2. Penguasa dzalim yang merubah hukum‐hukum Allah. (QS 4:60)
3. Orang‐orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.(5:44)
4. Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.(QS 72:26)
5. Sesuatu selain Allah yang diibadahi dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.(QS 21:29)
6. Penguasa
yang merubah hukum Alloh bukan ulil amri minkum seperti QS Annisa : 59,
tapi ia adalah thogut berdasarkan QS Annisa : 60, karena berhukum
kepada hukum Alloh adalah SYARAT SAH iman . Bagaimana mau dikatakan
beriman sementara ketika berselisih justru tidak merujuk kepada qur’an
sunnah tapi malah merujuk kepada hukum thogut!. Padahal dalam QS Annisa
60 Alloh subhanahu wata’ala MEMERINTAHKAN untuk mengkufurinya !.
Maka
siapa yang mendalili thogut dengan QS Annisa 59-60 maka ia telah
melakukan tahrif (penyelewengan) terhadap makna ayat. Menafsirkan ayat
ini (QS Annisa 59),
Syaikh As-
Sa’di rahimahulloh berkata, “Mengembalikan semua perkara kepada hukum
Allah dan RasulNya adalah syarat (sah) iman. Ini menunjukkan bahwa siapa
saja yang tidak mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Allah
dan RasulNya, pada hakekatnya ia tidak beriman kepada Allah, tetapi
beriman kepada thoghut” (Tafsir as- Sa’di, 1/183).
BAGAIMANA BELIAU MENGAJARKAN CARA KUFUR KEPADA THOGUT ?
Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Karakter dari kafir
kepada thoghut adalah meyakini kebathilan peribadatan kepada selain
Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ, meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan
pelakunya serta memusuhi mereka.
Adapun makna
beriman kepada Allah ﻝﺎﻌﺗ ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ adalah meyakini bahwa Allah adalah
satu-satunya yang disembah, tidak ada yang lain, mengikhlaskan seluruh
ibadah untuk Allah ﻝﺎﻌﺗ ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ dan menafikan seluruh sesembahan
selain-Nya, mencintai orang-orang yang ikhlas dan menolong mereka,
membenci para pelaku syirik dan memusuhinya. Inilah syari'at Millah
Ibrohim, barangsiapa membencinya, maka dirinya adalah orang yang bodoh.
Inilah teladan yang telah dikabarkan oleh Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ,
قَدْ
كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ
مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ
وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ
تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ
لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ
رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ
ٱلْمَصِيرُ
“Sesungguhnya
telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka,
'Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang
kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata
antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai
kamu beriman kepada Allah saja' '. (QS. Al-Mumtahanah [60] : 4)".
(Ad Duror As Saniyyah : 1/161).
SIKAP BARO’ BELIAU TERHADAP THOGUT & ORANG MUSYRIK
Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : "Demi Allah, demi Allah
wahai saudaraku! Berpegang teguhlah kepada pokok dasar agama kalian
yang pertama dan yang terakhir, hati dan kepalanya, yaitu syahadat laa
ilaaha illallaah, ketahuilah maknanya, cintailah orang-orang yang
melaksanakannya, jadikanlah mereka saudara-saudara kalian meskipun
mereka jauh, kafirkan para thogut, musuhilah mereka dan bencilah
orang-orang yang mencintai mereka, yang membela mereka, orang yang tidak
mengkafirkan mereka, orang yang mengatakan “aku tidak ada urusan dengan
mereka”, atau orang yang mengatakan “Allah tidak membebaniku dengan
mereka”. Sungguh, dia telah melakukan kedustaan terhadap Allah SWT dan
mengada-ada. Bahkan Allah SWT telah membebankan kepadanya atas
orang-orang tersebut, dan mewajibkan kepadanya untuk mengkafirkan
mereka, serta berlepas diri dari mereka, meskipun yang ia kafirkan
adalah saudara-saudara mereka sendiri, atau anak-anak mereka sendiri.
Demi Allah dan demi Allah, berpegang teguhlah kalian kepada pokok dasar
agama kalian, semoga kalian bertemu Allah dalam keadaan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ya Allah, matikanlah kami
sebagai orang-orang muslim, dan masukkanlah kami bersama golongan
orang-orang yang sholih". (Ad-Duror As- Saniyyah : 2/119-120).
Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga berkata lagi : "Adapun
engkau wahai orang-orang yang telah dianugrahi nikmat Islam dan
mengetahui bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah. Apabila
kamu mengatakan, “inilah yang benar, aku telah meninggalkan selain
Allah, tetapi aku tidak menentang orang-orang musyrik serta tidak
berkomentar apapun tentang mereka”, maka janganlah kamu mengira bahwa
yang demikian itu menjadikan kamu masuk Islam. Akan tetapi kamu harus
membenci orang-orang musyrik, membenci siapa saja yang mencintai mereka,
mencela mereka dan memusuhi mereka. Sebagaimana bapak kalian Ibrahim
'alaihis salam dan orang- orang yang bersama beliau berkata,
قَدْ
كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ
مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ
وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا
بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ
تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ
لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ
رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ
ٱلْمَصِيرُ
"Sesungguhnya
telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
“Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang
kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata
antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai
kamu beriman kepada Allah saja…". (QS. Al-Mumtahanah : 4)
(Ad-Duror As- Saniyyah : 2/109)
Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "Bahkan tidak sah agama Islam itu
tanpa ada sikap berlepas diri dari mereka -yaitu thoghut yang menjadi
sesembahan selain Allah ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ ﻭ- serta mengkafirkan mereka. Allah ﻭ
ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ berfirman,
لَآ
إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ
فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ
بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ
عَلِيمٌ
“Karena
itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah,
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat". ( QS Al Baqarah, : 256), (Ad Duror As Saniyyah : 10/53)
PENDAPAT BELIAU TENTANG TEGAK HUJJAH
Syaikh
Muhhamad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam risalahnya kepada
Isa Ibnu Qasim dan Ahmad Ibnu Suwailim : “Dan sesungguhnya kalian masih
ragu tentang thaghut-thaghut itu dan para pengikutnya apakah hujjah itu
sudah tegak atau belum atas mereka ? Ini adalah tergolong keanehan yang
paling mengherankan, bagaimana kalian ragu akan hal ini sedangkan sudah
saya jelaskan berkali-kali kepada kalian. Sesungguhnya orang yang BELUM
TEGAK hujjah atasnya adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang
hidup dipedalaman yang sangat jauh [*] atau hal itu dalam masalah
khafiyyah [**] (yang masih samar) seperti sharf dan ‘athaf (pelet) maka
(dalam hal seperti ini) pelakunya tidak dikafirkan sehingga diberitahu
(terlebih dahulu). Dan adapun Ushuluddien yang telah Allah jelaskan dan
Dia pastikan di dalam kitab- Nya maka sesungguhnya hujjah Allah adalah
Al- Qur’an. Siapa yang sampai kepadanya Al- Qur’an berarti hujjah itu
SUDAH TEGAK, akan tetapi inti kekeliruan adalah kalian tidak membedakan
tegak hujjah dengan paham hujjah, karena sesungguhnya mayoritas orang
kafir dan munafik, mereka itu tidak paham hujjah Allah padahal hujjah
itu SUDAH TEGAK atas mereka, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala
:
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعَٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau
apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau
memahami. mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Q.S. Al
Furqan [25] : 44)
TEGAK dan
SAMPAINYA hujjah adalah lain, sedangkan PAHAM hujjah adalah hal lain
pula. Dan Allah telah mengkafirkan mereka dengan sebab sampainya hujjah
kepada mereka MESKIPUN mereka tidak memahaminya.” [Tarikh Nejd : 410]
[*] Harus ingat bahwa orang macam ini bila melakukan kemusyrikan, tetap
disebut orang musyrik bukan muslim, namun belum dikafirkan. Camkan hal
ini! [**] Seperti masalah Khalqul Qur’an dan masalah-masalah yang
dipertentangkan antara Ahlus Sunnah dengan Ahli Bid’ah lainnya yang pada
dasarnya mengandung unsur kekafiran. Contohnya pernyataan bahwa Al
Qur’an adalah makhluq, maka ini mengandung pendustaan terhadap nash yang
menyatakan bahwa Al Qur’an itu Kalamullah bukan makhluq, namun karena
ini adalah masalah yang tersamar (khafiyyah), maka orangnya tidak
dikafirkan sampai ditegakkan hujjah secara khusus kepadanya dan
syubhatnya disingkapkan. Jadi yang namanya hujjah di dalam masaail
khaifiyyah adalah bayaan dan diskusi. Dan digolongkan juga di dalam
masaail khafiyyah adalah permasalahan syirik akbar yang samar dari sisi
makna dan hakikatnya , seperti Demokrasi berkaitan dengan orang yang
tidak terlibat langsung di dalamnya namun dia hanya sekedar mencoblos
atau mencontreng, maka sebelum pengkafiran orang mu’ayyan yang mencoblos
harus ditegakkan hujjah terlebih dahulu secara khusus karena ada
ihtimaal (kemungkinan) dia itu tidak mengetahui makna dan hakikat
demokrasi itu dan hakikat mencoblos.
SALAH SATU
MUSUH DAKWAH TAUHID MENURUT BELIAU Syaikh Muhammad At
Tamimirahimahullah: “Orang-orang yang merasa keberatan dengan masalah
takfir, bila engkau mengamati mereka ternyata kaum muwahhidin adalah
MUSUH MEREKA, mereka BENCI & DONGKOL kepada para muwahhid itu.
Sedangkan para PELAKU SYIRIK & MUNAFIQIN adalah TEMAN MEREKA yang
mana mereka BERCENGKRAMA DENGANNYA. Akan tetapi hal seperti ini telah
menimpa orang-orang yang pernah bersama kami di Diriyah dan Uyainah yang
mana mereka murtad dan benci akan dien ini” [Ad Durar As Saniyyah:
10/92]
UCAPAN ULAMA TENTANG TUDUHAN KHOWARIJ KEPADA BELIAU & MUWAHIDIEN
Abu
Abdurrahman Al- Atsari ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Sampai-sampai ketika Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab membela tauhid dan mencela para thoghut serta
memusuhinya, para 'ulama-'ulama yang buruk itu berkata tentang
beliau,'Sesungguhnya dia adalah orang Khowarij Takfiri', SAMA SEPERTI
YANG TERJADI PADA HARI INI". (Al-Haqq wal Yaqiin fii Adaawaat At-Tughot
wal Murtaddiin) Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata : "Ada
orang-orang musyrik yang mengkafirkan para Muwahhid karena keikhlasan
dan pengingkaran mereka terhadap pelaku kesyirikan. Mereka mengatakan
kepada para Muwahhid tersebut, KALIAN ADALAH KHOWARIJ, KALIAN ADALAH
PELAKU BID’AH !. Keadaan ini persis sebagaimana yang digambarkan oleh
Ibnul Qoyyim Al- Jauziyyah dalam syairnya , 'Siapa yang menyerupakanku
dengan khowarij, yang mengkafirkan pelaku dosa dengan takwil tanpa
pertimbangan, mereka sedikit memahami dalil dan menyepelekan kebajikan.
Musuh kami mengkafirkan apa yang ada pada kami. Padahal itulah TUJUAN
POKOK TAUHID DAN IMAN . Orang ini mengambil pemahaman orang yang
mengkafirkan seseorang karena lepasnya tauhid dari dirinya. Jika kita
mengatakan, 'Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT, tidak ada
yang berhak dimintai kecuali Dia, tidak ada sesuatu yang menjadi
tumpahan harapan dan tempat bertawakkal kecuali Dia, dan bentuk ibadah
lain yang tidak akan benar kecuali jika ditujukan hanya kepada-Nya.
Sedangkan selain itu ditujukan kepada selain Allah, maka dia telah kafir
dan musyrik'. Maka dia (murji'ah) berkata,'Kalian telah berbuat bid'ah
dan mengkafirkan ummat Nabi Muhammad SAW, KALIAN ADALAH KHOWARIJ, KALIAN
ADALAH PELAKU BID’AH ! ". (Ad-Duror As-Saniyyah : 11/448-449).
Syaikh Abdul
Lathif bin Abdurrahman ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Hari ini banyak orang-orang
musyrik yang berlebih-lebihan. Mereka menganggap pelaku takfir terhadap
orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah termasuk kelompok
Khowarij. Padahal bukan begitu, akan tetapi ucapan dua kalimat syahadat
tidak dapat menjadi penghalang (mawani') seseorang dihukumi kafir,
kecuali bagi orang-orang yang mengetahui makna keduanya, mengamalkan
konsekuensinya, mengikhlaskan ibadah untuk Allah, dan tidak
menyekutukan- Nya. Bagi orang seperti inilah dua kalimat ini akan
bermanfaat". (Ad-Duror As- Saniyyah : 12/263)
Syaikh Abdul
Lathif Ibnu Abdirrahman rahimahullah berkata: “Siapa yang menjadikan
pengkafiran dengan syirik akbar termasuk aqidah Khawarij maka sungguh
dia telah MENCELA SEMUA ROSUL dan UMAT INI. Dia TIDAK BISA MEMBEDAKAN
antara Dien para rasul dengan madzhab Khawarij, dia telah MENCAMPAKKAN
nash-nash Al Qur’an dan dia mengikuti SELAIN jalan kaum muslimin”
[Mishbahudz Dzalam: 72] “WAHABI” SETENGAH HATI Yang agak “unik”, ada
orang yang mengklaim sebagai pewaris ideology & aqidah syaikh
rahimahulloh, tapi realitanya sungguh jauh dari pengakuan mereka dari
sosok & akidah syaikh rahimahulloh. Salah satu buktinya mereka
mengatakan penguasa yang berhukum kepada selain hukum Alloh (Baca :
hukum thogut) sebagai “Amirul Mukminin” yang wajib ditaati, membangkang
dari mereka adalah khowarij dan Kilabunnar (Anjing-anjing neraka),
darahnya halal ditumpahkan. Begitukah akidah Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahab? Tidak, jauh sekali. Justru syaikh menegaskan bahwa salah satu
gembong thogut yang wajib diingkari & dimusuhi adalah pemimpin yang
menerapkan selain hukum Alloh. Dalilnya QS Annisa 60 (Mu’allafat Syaikh
Muhammad bin Abdil Wahhab, hal 337) - (lihat 5 pentolan thogut diatas)
Syaikh mengatakan, mengingkari thogut adalah bagian dari kesempurnaan
Islam. bahkan dalam beberapa pernyataan lain, beliau menjadikan ingkar
kepada thogut adalah bagian dari syarat sah iman seseorang (termasuk
dalam hal ini adalah pemimpin yang memusuhi syariat islam). Tapi disisi
lain justru para pengklaim tersebut mewajibkan taat kepada pemimpin yang
tidak berhukum kepada hukum Alloh, menerapkan hukum thogut dan sekuler.
Bahkan, menghalalkan darah orang yang mencoba melurusknya pemimpin
tadi. Amboi, jauhnya panggang dari api.
LALU, SIAPAKAH PENGIKUT SYAIKH RAHIMAHULLOH YANG SESUNGGUHNYA ?
1. Yang tauhidnya murni & terbebas dari syirik, baik syirik kubur maupun dustur (hukum)
2. Yang kufur kepada thogut serta membencinya dan menjauhinya
3. Yang
berhukum kepada Quran Sunnah bukan kepada thogut Syaikh kami Al Imam
rahimahullah – yaitu kakeknya: Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab –
berkata dalam konteks penuturan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam
terhadap Quraisy untuk bertauhid, serta apa yang muncul dari mereka
saat beliau menyebutkan ilah-ilah mereka bahwa itu tidak bisa
mendatangkan manfaat dan mudlarat bagi mereka, sesungguhnya mereka
menjadikan hal itu sebagai celaan”. Bila engkau mengetahui ini maka
engkau mengetahui bahwa orang tidak tegak Islamnya meskipun ia
mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi
orang-orang musyrik dan terang-terangan menampakkan permusuhan dan
kebencian terhadap mereka, sebagaimana firman-Nya:
لَّا
تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ
يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟
ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم
بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا
ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟
عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ
ٱلْمُفْلِحُونَ
Artinya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang- orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau
anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah
orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka
dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka
ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap
(limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al
Mujadilah,58:22)
Bila
engkau memahami hal ini dengan pemahaman yang baik, maka engkau
mengetahui bahwa banyak diantara orang yang mengaku Islam tidak
mengetahuinya. Karena kalau bukan karena itu, maka apa yang mendorong
kaum muslimi untuk sabar atas penindasan, ditawan dan hijrah ke Habsyah
padahal beliau adalah orang yang paling sayang dan seandainya beliau
mendapatkan bagi mereka rukhshah (keringanan) tentulah beliau memberikan
rukhshah kepada mereka, bagaimana itu bisa ada sedangkan Allah telah
menurunkan kepadanya firmanNya dlm QS : Al Ankabut,29: 10 “Bila saja
ayat ini berkenaan dengan orang yang setuju dengan lisannya, maka
bagaimana dengan selain itu, yaitu orang yang menyetujui mereka dengan
ucapan dan perbuatan tanpa ada penindasan, terus ia mendukung mereka,
membantu mereka, dan membela-membela mereka dan orang yang setuju dengan
mereka, serta mengingkari orang yang menyelisihi mereka sebagaimana itu
realita yang terjadi”. (Ad Durar Juz Al Jihad hal: 93)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar