Minggu, 21 Juli 2013

Inilah Dakwah dan Aqidah Syeikh Muhammad bin Abdil Wahhab

PENDAPAT BELIAU DALAM MASALAH TAUHID &SYIRIK

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga berkata : "Aku tahu bahwa manusia tidak akan lurus agama dan Islamnya, meskipun ia mentauhidkan Allah -subhanahu wata'ala- dan meninggalkan kesyirikan , kecuali disertai dengan permusuhan terhadap orang-orang musyrik dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka". (Ad-Duror As- Saniyyah : 8/113). 

Syaikh Asy-Syanqithi berkata: “Mensyirikkan Allah swt dalam berhukum dan mensyirikkan Allah swt dalam beribadah, tidak ada bedanya sama sekali. Orang yang mengikuti aturan selain aturan Allah dan mengikuti undang-undang selain undang-undang Allah. Ia seperti penyembah arca dan bersujud kepada patung. Sama sekali tidak ada perbedaan antar keduanya. Status mereka sama;sama- sama musyrik.” (Adhwa’ul Bayan, 7/162).

PENDAPAT BELIAU TENTANG THOGUT

Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan : “Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima, yaitu : 

1.      Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah. (QS 6:112 & 36:60)
2.      Penguasa dzalim yang merubah hukumhukum Allah. (QS 4:60)
3.      Orangorang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.(5:44)
4.      Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.(QS 72:26)
5.      Sesuatu selain Allah yang diibadahi dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.(QS 21:29)
6.      Penguasa yang merubah hukum Alloh bukan ulil amri minkum seperti QS Annisa : 59, tapi ia adalah thogut berdasarkan QS Annisa : 60, karena berhukum kepada hukum Alloh adalah SYARAT SAH iman . Bagaimana mau dikatakan beriman sementara ketika berselisih justru tidak merujuk kepada qur’an sunnah tapi malah merujuk kepada hukum thogut!. Padahal dalam QS Annisa 60 Alloh subhanahu wata’ala MEMERINTAHKAN untuk mengkufurinya !.
Maka siapa yang mendalili thogut dengan QS Annisa 59-60 maka ia telah melakukan tahrif (penyelewengan) terhadap makna ayat. Menafsirkan ayat ini (QS Annisa 59), 

Syaikh As- Sa’di rahimahulloh berkata, “Mengembalikan semua perkara kepada hukum Allah dan RasulNya adalah syarat (sah) iman. Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Allah dan RasulNya, pada hakekatnya ia tidak beriman kepada Allah, tetapi beriman kepada thoghut” (Tafsir as- Sa’di, 1/183).

BAGAIMANA BELIAU MENGAJARKAN CARA KUFUR KEPADA THOGUT ?

 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Karakter dari kafir kepada thoghut adalah meyakini kebathilan peribadatan kepada selain Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ, meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan pelakunya serta memusuhi mereka. 

Adapun makna beriman kepada Allah ﻝﺎﻌﺗ ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ adalah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang disembah, tidak ada yang lain, mengikhlaskan seluruh ibadah untuk Allah ﻝﺎﻌﺗ ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ dan menafikan seluruh sesembahan selain-Nya, mencintai orang-orang yang ikhlas dan menolong mereka, membenci para pelaku syirik dan memusuhinya. Inilah syari'at Millah Ibrohim, barangsiapa membencinya, maka dirinya adalah orang yang bodoh. Inilah teladan yang telah dikabarkan oleh Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ, 

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja' '. (QS. Al-Mumtahanah [60] : 4)".
(Ad Duror As Saniyyah : 1/161). 

SIKAP BARO’ BELIAU TERHADAP THOGUT & ORANG MUSYRIK

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : "Demi Allah, demi Allah wahai saudaraku! Berpegang teguhlah kepada pokok dasar agama kalian yang pertama dan yang terakhir, hati dan kepalanya, yaitu syahadat laa ilaaha illallaah, ketahuilah maknanya, cintailah orang-orang yang melaksanakannya, jadikanlah mereka saudara-saudara kalian meskipun mereka jauh, kafirkan para thogut, musuhilah mereka dan bencilah orang-orang yang mencintai mereka, yang membela mereka, orang yang tidak mengkafirkan mereka, orang yang mengatakan “aku tidak ada urusan dengan mereka”, atau orang yang mengatakan “Allah tidak membebaniku dengan mereka”. Sungguh, dia telah melakukan kedustaan terhadap Allah SWT dan mengada-ada. Bahkan Allah SWT telah membebankan kepadanya atas orang-orang tersebut, dan mewajibkan kepadanya untuk mengkafirkan mereka, serta berlepas diri dari mereka, meskipun yang ia kafirkan adalah saudara-saudara mereka sendiri, atau anak-anak mereka sendiri. Demi Allah dan demi Allah, berpegang teguhlah kalian kepada pokok dasar agama kalian, semoga kalian bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ya Allah, matikanlah kami sebagai orang-orang muslim, dan masukkanlah kami bersama golongan orang-orang yang sholih". (Ad-Duror As- Saniyyah : 2/119-120).

 Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga berkata lagi : "Adapun engkau wahai orang-orang yang telah dianugrahi nikmat Islam dan mengetahui bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah. Apabila kamu mengatakan, “inilah yang benar, aku telah meninggalkan selain Allah, tetapi aku tidak menentang orang-orang musyrik serta tidak berkomentar apapun tentang mereka”, maka janganlah kamu mengira bahwa yang demikian itu menjadikan kamu masuk Islam. Akan tetapi kamu harus membenci orang-orang musyrik, membenci siapa saja yang mencintai mereka, mencela mereka dan memusuhi mereka. Sebagaimana bapak kalian Ibrahim 'alaihis salam dan orang- orang yang bersama beliau berkata, 

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۢ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
  
"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…". (QS. Al-Mumtahanah : 4)
(Ad-Duror As- Saniyyah : 2/109) 

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "Bahkan tidak sah agama Islam itu tanpa ada sikap berlepas diri dari mereka -yaitu thoghut yang menjadi sesembahan selain Allah ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ ﻭ- serta mengkafirkan mereka. Allah ﻭ ﺎﺤﻨﺤﺒﺳ ﻝﺎﻌﺗ berfirman, 

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat". ( QS Al Baqarah, : 256), (Ad Duror As Saniyyah : 10/53) 

PENDAPAT BELIAU TENTANG TEGAK HUJJAH

Syaikh Muhhamad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam risalahnya kepada Isa Ibnu Qasim dan Ahmad Ibnu Suwailim : “Dan sesungguhnya kalian masih ragu tentang thaghut-thaghut itu dan para pengikutnya apakah hujjah itu sudah tegak atau belum atas mereka ? Ini adalah tergolong keanehan yang paling mengherankan, bagaimana kalian ragu akan hal ini sedangkan sudah saya jelaskan berkali-kali kepada kalian. Sesungguhnya orang yang BELUM TEGAK hujjah atasnya adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang hidup dipedalaman yang sangat jauh [*] atau hal itu dalam masalah khafiyyah [**] (yang masih samar) seperti sharf dan ‘athaf (pelet) maka (dalam hal seperti ini) pelakunya tidak dikafirkan sehingga diberitahu (terlebih dahulu). Dan adapun Ushuluddien yang telah Allah jelaskan dan Dia pastikan di dalam kitab- Nya maka sesungguhnya hujjah Allah adalah Al- Qur’an. Siapa yang sampai kepadanya Al- Qur’an berarti hujjah itu SUDAH TEGAK, akan tetapi inti kekeliruan adalah kalian tidak membedakan tegak hujjah dengan paham hujjah, karena sesungguhnya mayoritas orang kafir dan munafik, mereka itu tidak paham hujjah Allah padahal hujjah itu SUDAH TEGAK atas mereka, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala : 

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَٱلْأَنْعَٰمِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا 

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Q.S. Al Furqan [25] : 44)

 TEGAK dan SAMPAINYA hujjah adalah lain, sedangkan PAHAM hujjah adalah hal lain pula. Dan Allah telah mengkafirkan mereka dengan sebab sampainya hujjah kepada mereka MESKIPUN mereka tidak memahaminya.” [Tarikh Nejd : 410] [*] Harus ingat bahwa orang macam ini bila melakukan kemusyrikan, tetap disebut orang musyrik bukan muslim, namun belum dikafirkan. Camkan hal ini! [**] Seperti masalah Khalqul Qur’an dan masalah-masalah yang dipertentangkan antara Ahlus Sunnah dengan Ahli Bid’ah lainnya yang pada dasarnya mengandung unsur kekafiran. Contohnya pernyataan bahwa Al Qur’an adalah makhluq, maka ini mengandung pendustaan terhadap nash yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu Kalamullah bukan makhluq, namun karena ini adalah masalah yang tersamar (khafiyyah), maka orangnya tidak dikafirkan sampai ditegakkan hujjah secara khusus kepadanya dan syubhatnya disingkapkan. Jadi yang namanya hujjah di dalam masaail khaifiyyah adalah bayaan dan diskusi. Dan digolongkan juga di dalam masaail khafiyyah adalah permasalahan syirik akbar yang samar dari sisi makna dan hakikatnya , seperti Demokrasi berkaitan dengan orang yang tidak terlibat langsung di dalamnya namun dia hanya sekedar mencoblos atau mencontreng, maka sebelum pengkafiran orang mu’ayyan yang mencoblos harus ditegakkan hujjah terlebih dahulu secara khusus karena ada ihtimaal (kemungkinan) dia itu tidak mengetahui makna dan hakikat demokrasi itu dan hakikat mencoblos. 

SALAH SATU MUSUH DAKWAH TAUHID MENURUT BELIAU Syaikh Muhammad At Tamimirahimahullah: “Orang-orang yang merasa keberatan dengan masalah takfir, bila engkau mengamati mereka ternyata kaum muwahhidin adalah MUSUH MEREKA, mereka BENCI & DONGKOL kepada para muwahhid itu. Sedangkan para PELAKU SYIRIK & MUNAFIQIN adalah TEMAN MEREKA yang mana mereka BERCENGKRAMA DENGANNYA. Akan tetapi hal seperti ini telah menimpa orang-orang yang pernah bersama kami di Diriyah dan Uyainah yang mana mereka murtad dan benci akan dien ini” [Ad Durar As Saniyyah: 10/92]

UCAPAN ULAMA TENTANG TUDUHAN KHOWARIJ KEPADA BELIAU & MUWAHIDIEN

Abu Abdurrahman Al- Atsari ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Sampai-sampai ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membela tauhid dan mencela para thoghut serta memusuhinya, para 'ulama-'ulama yang buruk itu berkata tentang beliau,'Sesungguhnya dia adalah orang Khowarij Takfiri', SAMA SEPERTI YANG TERJADI PADA HARI INI". (Al-Haqq wal Yaqiin fii Adaawaat At-Tughot wal Murtaddiin) Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata : "Ada orang-orang musyrik yang mengkafirkan para Muwahhid karena keikhlasan dan pengingkaran mereka terhadap pelaku kesyirikan. Mereka mengatakan kepada para Muwahhid tersebut, KALIAN ADALAH KHOWARIJ, KALIAN ADALAH PELAKU BID’AH !. Keadaan ini persis sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnul Qoyyim Al- Jauziyyah dalam syairnya , 'Siapa yang menyerupakanku dengan khowarij, yang mengkafirkan pelaku dosa dengan takwil tanpa pertimbangan, mereka sedikit memahami dalil dan menyepelekan kebajikan. Musuh kami mengkafirkan apa yang ada pada kami. Padahal itulah TUJUAN POKOK TAUHID DAN IMAN . Orang ini mengambil pemahaman orang yang mengkafirkan seseorang karena lepasnya tauhid dari dirinya. Jika kita mengatakan, 'Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT, tidak ada yang berhak dimintai kecuali Dia, tidak ada sesuatu yang menjadi tumpahan harapan dan tempat bertawakkal kecuali Dia, dan bentuk ibadah lain yang tidak akan benar kecuali jika ditujukan hanya kepada-Nya. Sedangkan selain itu ditujukan kepada selain Allah, maka dia telah kafir dan musyrik'. Maka dia (murji'ah) berkata,'Kalian telah berbuat bid'ah dan mengkafirkan ummat Nabi Muhammad SAW, KALIAN ADALAH KHOWARIJ, KALIAN ADALAH PELAKU BID’AH ! ". (Ad-Duror As-Saniyyah : 11/448-449).

Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻤﺣِﺭ berkata : "Hari ini banyak orang-orang musyrik yang berlebih-lebihan. Mereka menganggap pelaku takfir terhadap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah termasuk kelompok Khowarij. Padahal bukan begitu, akan tetapi ucapan dua kalimat syahadat tidak dapat menjadi penghalang (mawani') seseorang dihukumi kafir, kecuali bagi orang-orang yang mengetahui makna keduanya, mengamalkan konsekuensinya, mengikhlaskan ibadah untuk Allah, dan tidak menyekutukan- Nya. Bagi orang seperti inilah dua kalimat ini akan bermanfaat". (Ad-Duror As- Saniyyah : 12/263)

 Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdirrahman rahimahullah berkata: “Siapa yang menjadikan pengkafiran dengan syirik akbar termasuk aqidah Khawarij maka sungguh dia telah MENCELA SEMUA ROSUL dan UMAT INI. Dia TIDAK BISA MEMBEDAKAN antara Dien para rasul dengan madzhab Khawarij, dia telah MENCAMPAKKAN nash-nash Al Qur’an dan dia mengikuti SELAIN jalan kaum muslimin” [Mishbahudz Dzalam: 72] “WAHABI” SETENGAH HATI Yang agak “unik”, ada orang yang  mengklaim sebagai pewaris ideology & aqidah syaikh rahimahulloh, tapi realitanya sungguh jauh dari pengakuan mereka dari sosok & akidah syaikh rahimahulloh. Salah satu buktinya mereka mengatakan penguasa yang berhukum kepada selain hukum Alloh (Baca : hukum thogut) sebagai “Amirul Mukminin” yang wajib ditaati, membangkang dari mereka adalah khowarij dan Kilabunnar (Anjing-anjing neraka), darahnya halal ditumpahkan. Begitukah akidah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab? Tidak, jauh sekali. Justru syaikh menegaskan bahwa salah satu gembong thogut yang wajib diingkari & dimusuhi adalah pemimpin yang menerapkan selain hukum Alloh. Dalilnya QS Annisa 60 (Mu’allafat Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, hal 337) - (lihat 5 pentolan thogut diatas) Syaikh mengatakan, mengingkari thogut adalah bagian dari kesempurnaan Islam. bahkan dalam beberapa pernyataan lain, beliau menjadikan ingkar kepada thogut adalah bagian dari syarat sah iman seseorang (termasuk dalam hal ini adalah pemimpin yang memusuhi syariat islam). Tapi disisi lain justru para pengklaim tersebut mewajibkan taat kepada pemimpin yang tidak berhukum kepada hukum Alloh, menerapkan hukum thogut dan sekuler. Bahkan, menghalalkan darah orang yang mencoba melurusknya pemimpin tadi. Amboi, jauhnya panggang dari api. 

LALU, SIAPAKAH PENGIKUT SYAIKH RAHIMAHULLOH YANG SESUNGGUHNYA ? 

1.      Yang tauhidnya murni & terbebas dari syirik, baik syirik kubur maupun dustur (hukum)
2.      Yang kufur kepada thogut serta membencinya dan menjauhinya
3.    Yang berhukum kepada Quran Sunnah bukan kepada thogut Syaikh kami Al Imam rahimahullah – yaitu kakeknya: Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab – berkata dalam konteks penuturan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap Quraisy untuk bertauhid, serta apa yang muncul dari mereka saat beliau menyebutkan ilah-ilah mereka bahwa itu tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudlarat bagi mereka, sesungguhnya mereka menjadikan hal itu sebagai celaan”. Bila engkau mengetahui ini maka engkau mengetahui bahwa orang tidak tegak Islamnya meskipun ia mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik dan terang-terangan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, sebagaimana firman-Nya: 

لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang- orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga  mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah,58:22) 

Bila engkau memahami hal ini dengan pemahaman yang baik, maka engkau mengetahui bahwa banyak diantara orang yang mengaku Islam tidak mengetahuinya. Karena kalau bukan karena itu, maka apa yang mendorong kaum muslimi untuk sabar atas penindasan, ditawan dan hijrah ke Habsyah padahal beliau adalah orang yang paling sayang dan seandainya beliau mendapatkan bagi mereka rukhshah (keringanan) tentulah beliau memberikan rukhshah kepada mereka, bagaimana itu bisa ada sedangkan Allah telah menurunkan kepadanya firmanNya dlm QS : Al Ankabut,29: 10 “Bila saja ayat ini berkenaan dengan orang yang setuju dengan lisannya, maka bagaimana dengan selain itu, yaitu orang yang menyetujui mereka dengan ucapan dan perbuatan tanpa ada penindasan, terus ia mendukung mereka, membantu mereka, dan membela-membela mereka dan orang yang setuju dengan mereka, serta mengingkari orang yang menyelisihi mereka sebagaimana itu realita yang terjadi”. (Ad Durar Juz Al Jihad hal: 93)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar